Dear Diary !
Hari ini saya mau bercerita atau mungkin saya sedang tidak menceritakan apa apa.
Terus mengotak-atik handphone seluler berharap sebuah pesan akan masuk dan menggetarkan handphone tersebut, tapi nyatanya tidak begitu. Karena tanganku tidak sabar dan begitu gelisah, saya-lah yang menanyakan kabar tentangnya..
Perasaan rindu yang kurasakan tidak ter-balas-kan karena dia tidak merasakan hal yang sama. Semenjak peristiwa/kejadian itu saya merasa seperti ada yang berbeda dari kami masing-masing. Jadi tidak mempunyai topik bahasan, jadi sedikit tertutup, jadi sedikit kaku dan garing " krik.. krik...
Yaa tapi saya tidak menyalahkan apapun terhadap hal ini, saya juga tidak menyalahkan keadaan ini. Tapi saya bersyukur mungkin keadaan seperti ini itulah ada sebuah tahap uji yang harus dilalui ," Jika katanya kita juga harus berfikir pesimis, ya benar " Tapi jika untuk saya sendiri> Saya lebih suka optimis dari pada pesimis, karena saya mempunyai keyakinan akan masa depan yang cerah, dan seperti ada tertulis," Jika kita meminta kepada-Nya dalam iman yang sungguh, maka ia akan menghendaki itu.
Dan saya yakin kepada Tuhan Yesus Kristus apa yang menjadi kerinduan saya, keinginan saya pada waktunya ia akan memberikannya, karena saya yakin dan percaya bahwa Ia tidak akan mempermalukan saya.
Seperti ada tertulis dalam surat Yakobus 4:14." Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? hidupmu itu seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap".
Di katakan seperti ini, dan saya juga yakin bahwa saya tidak akan tahu apa yang terjadi esok, dan ke-esokkan harinya dan saya hanya bisa menikmati hidup yang sudah diberikan-Nya dengan melakukan kebenaran yang seturut dengan Firman Allah, yaitu Kasih yang begitu indah telah dikaruniakan Allah kepada saya, maka saya gunakan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati saya, dan melakukan segala perintah dan peraturan-Nya.
Ahkir-ahkir ini saya sulit untuk tersenyum Lebar, seperti yang biasanya saya lakukan. Banyak dari beberapa orang dirumah mengatakan itu," ada yang mengatakan secara langsung, dan ada pula yang berbisik-bisik.
Entah bagaimana mereka tahu bahwa saya tidak tersenyum," Saya beranggapan bahwa karena saya sering sekali tersenyum, dan ketika senyum yang biasanya saya gunakan itu tidak ada sama sekali di bagian lekukkan pipi saya, maka akan secara jelas terlihat di raut wajah saya. *menyebalkan
Ada beberapa hal yang membuat saya sedih, tapi saya tidak ingin memaparkannya secara gamblang.
Sebagai manusia biasa saya merasa sudah tidak kuat lagi menghadapi segala beban yang di pundak saya. Sebagai anak pertama, saya seorang laki-laki yang akan menjadi Tulang punggung keluarga saya, beban saya begitu berat," Banyak orang yang tidak mengerti tentang saya secara jelas, bahkan orang tua saya sendiri pun sejak dulu tidak mengerti itu. Saya merasa aneh, saya merasa bukan saya, saya merasa apakah ini saya ?
Belum lagi bicara tentang hati, hati ini," yang tulus ini " bagaimanakah nasib hati yang tulus ini ? apakah hati yang tulus ini akan ditinggalkan, apakah hati yang tulus ini akan kesepian," Kembali lagi merasa sendiri, sehingga pergi mencari tempat untuk melupakan bebannya, namun ahkir-nya hati ini terjebak dalam kesenangan :3
Aku sering bertanya tanya kepada hatiku. Terus bertanya untuk mendapatkan jawaban yang di inginkan. Tapi ternyata jawaban itu akan di dapatkan," tapi tidak secara langsung " Ada dimana waktu yang akan menjawabnya nanti, dan pertanyaan yang saya tanyakan tersebut, saya yang akan menjawabnya sendiri seiring dengan bergulirnya waktu.
Adakah hati yang terbuat dari besi dan baja agar tidak merasakan sakit," Tidak ada pastinya ..
Semua hati manusia sama bentuknya, namun tidak semua manusia dapat menggunakan hati yang mereka milik - ki dengan tepat. Ada yang berpura-pura dan ada juga yang tulus. Jadi diantara itu, di manakah posisi hati saudara ? *pikirkan
Tuhan, biarlah duri itu menancap pada kaki saya agar saya dapat merasakan sakitnya..
Tuhan, biarlah batu itu menyandung saya hingga terjatuh agar saya tahu caranya untuk berdiri
Artinya: Biarlah masalah yang datang pada setiap hidup saya, itu menjadi suatu hal yang dapat saya pergunakan untuk lebih dewasa, lebih bijaksana, lebih berhikmat lagi, dan lebih takut akan-Mu. Karena saya yakin, bahwa setiap masalah yang saya akan hadapi dan apabila saya dapat menyelesaikannya akan ada banyak lagi masalah yang datang untuk membuktikan apakah saya sudah tahan uji.
Dear Kekasih !
Sayang, kamu tahu bagaimana hatiku ini ..
kamu tahu, bagaimana aku dulu
Semuanya...
Sudah ku katakan yang sejujur-nya untuk mendapatkan kasih sayangmu
Sayang, kamu tahu karena kasih juga yang mempertemukan kita
Aku hanya mau kamu mengerti kebenaran itu
Kamu adalah orang yang sangat kukasihi sebagai manusia, selain dari pada kedua orang tuaku yang ada di dunia ini, tapi tetap aku terlebih mengasihi Tuhan Allahku
Aku menjatuhkan pilihan-ku kepadamu, tapi biarlah Tuhan yang menentukan baik atau tidaknya
Sayang, jadilah seperti waktu itu
Kamu, kasihmu yang kamu berikan padaku..
Senyummu yang terpancar padaku ..
Motivasi yang kau berikan
Perhatianmu yang ahkir-ahkir ini hilang dari padaku juga membuatku jadi tidak mengerti ada apa sebenarnya ...
Semuanya itu aku inginkan. Perhatianmu, motivasimu, kasih sayangmu, nasehatmu dan lain lain .
Satu hal :
Sampai kapanpun kamu tetap dihati ku, dan tidak ada yang merubah itu di hatiku
Aku, kamu, kita & harapan ! ♥
Tidak ada komentar:
Posting Komentar